MikeMediaIndonesia.com, Tahuna, Sangihe – El Niño adalah fenomena iklim alami berupa pemanasan luar biasa suhu permukaan air Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang terjadi secara berkala, biasanya setiap 2–7 tahun sekali, dan berlangsung selama beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun.
Di Indonesia secara umum, El Nino menyebabkan curah hujan turun jauh di bawah rata-rata, musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang, meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu hasil pertanian maupun ketersediaan air bersih. Sebaliknya, wilayah Amerika Selatan bagian barat justru akan mengalami hujan lebat hingga banjir.
Terkait hal ini, Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Sangihe sebagai salah satu instansi yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah agar tetap stabil sudah mempersiapkan beberapa langkah alternatif.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Sangihe, Franky Nantingkase mengatakan, bahwa Dinas Pertanian Sangihe saat ini sedang membangun jaringan irigasi untuk mencegah kekeringan. Sebelumnya juga sudah dibangun di beberapa wilayah sentra pangan, seperti di Kampung Kalekube, Kecamatan Tabukan Utara, Kampung Kuma, Kecamatan Tabukan Tengah dan di Kampung Lenganeng, Kecamatan Tabukan Utara saat ini sememtara dikerjakan.
Menurut Franky pembangunan jaringan irigasi ini dilakukan secara bersama, kolaborasi lintas sektor termasuk TNI dan POLRI.
Franky juga menjelaskan, selain program jaringan irigasi, pihaknya juga sudah bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumda Air Minum Ake’u Banua agar dapat membantu menyediakan tangki-tangki air dan pasokan air bersih.
“Saat ini kami masih mendata wilayah-wilayan mana saja yang rawan kekeringan sehingga menjadi prioritas utama dalam penanganannya,” tutup Franky.
(MikeTowira)







